Sejarah Lengkap Perjuangan Bangsa Indonesia dalam Pembebasan Irian Barat (Trikora)

Berikut ini adalah pembahasan lengkap tentang sejarah pembebasan Irian Barat yang meliputi perjuangan merebut kembali irian barat, sejarah perjuangan bangsa indonesia, pembebasan irian barat, pembebasan irian jaya, sejarah indonesia melawan penjajah, perjuangan bangsa indonesia melawan penjajah, isi trikora, tiga komando rakyat, komando mandala, panglima komando mandala, isi tri komando rakyat, isi trikora, tiga komando rakyat, komando mandala, panglima komando mandala, isi tri komando rakyat, sejarah perjuangan kemerdekaan indonesia.

Sejarah Pembebasan Irian Barat

Sudah diketahui bersama bahwa pembebasan Irian Barat adalah salah satu program Kabinet Karya. Kabinet Karya dibentuk pada tanggal 9 Juli 1959. Pembebasan Irian Barat ditempuh pertama-tama melalui jalan diplomasi.

Untuk itu diadakan pembicaraan bilateral antara Belanda dan Indonesia. Selain itu, penyelesaian masalah Irian Barat juga melibatkan pihak lain, yaitu PBB.

Pada kenyataannya jalan diplomasi kurang efektif dan tidak memberikan hasil yang menggembirakan bagi Indonesia. Oleh karena itu, proses pengembalian Irian Barat ditempuh melalui gerakan bersenjata atau konfrontasi.

1. Perjuangan Pembebasan Irian Barat Melalui Jalan Diplomasi

Jalan diplomasi yang ditempuh pemerintah Indonesia merupakan langkah awal dalam rangka pengembalian Irian Barat. Dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) sebenarnya telah dinyatakan bahwa Kerajaan Belanda akan menyerahkan kedaulatan wilayah Irian Barat kepada Republik Indonesia Serikat dengan tidak bersyarat dan tidak dapat dicabut.
Rapat umum di Jakarta pada tanggal 18 November 1957 untuk mendukung pembebasan Irian Barat.
Gambar: Rapat umum di Jakarta pada tanggal 18 November 1957 untuk mendukung pembebasan Irian Barat.

Karena Belanda tidak memathi isi KMB, maka pada tahun 1954 pemerintah Indonesia membawa masalah Irian Barat dalam sidang Majelis Umum PBB.
Persoalan Irian Barat berulang kali dimasukkan ke dalam agenda Sidang Majelis Umum PBB, tatapi tidak memperoleh tanggapan yang positif.
Pada tahun 1957, menteri luar negeri Republik Indonesia berpidato di depan Sidang Majelis Umum PBB. Isi pidatonya antara lain menyatakan bahwa mengenai Irian Barat pemerintah Indonesia akan menempuh cara lain setelah cara diplomasi tidak berhasil menyelesaikannya.

Nada keras yang dilontarkan Menteri Luar Negeri Indonesia tersebut tidak mampu mengubah pendirian negara-negara pendukung Belanda. Dukungan negara-negara terhadap Belanda semakin kuat ketika persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur semakin menguat dalam suasana Perang Dingin. Karena dukungan sejumlah negara terhadap penguasaan wilayah Irian Barat, Kerajaan Belanda tidak mau menyerahkan Irian Barat kepada pemerintah Indonesia.

Semua partai dan golongan/ormas yang ada di Indonesia mendukung usaha pembebasan Irian Barat. Irian Barat merupakan bagian wilayah Indonesia. Pada tahun 1957, pemerintah Indonesia melancarkan aksi-aksi untuk mengembalikan Irian Barat ke Indonesia.

Langkah awal yang dilaksanakan adalah mengambil alih perusahaan milik Belanda di Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1960, Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan pemerintah Belanda.

Sehubungan dengan masalah Irian Barat, Presiden Soekarno berpidato di depan Sidang Umum PBB pada tahun 1960. Dalam pidatonya yang berjudul “Membangun Dunia Kembali”, Presiden Soekarno menyatakan:
Kami telah berusaha untuk menyelesaikan masalah Irian Barat. Kami telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kesabaran dan penuh toleransi dan penuh harapan. Kami telah berusaha untuk mengadakan perundingan-perundingan bilateral. Harapan lenyap, kesabaran hilang, bahkan toleransi pun telah mencapai batasnya. Semuanya itu kini telah habis dan Belanda tidak memberikan alternatif lainnya, kecuali memperkeras sikap kami.”
Penandatanganan pengambilalihan perusahaan penerbangan KLM (Koningklijke Lucht Maatschappij) milik Belanda oleh Pemerintah Indonesia pada bulan Desember 1957.
Gambar: Penandatanganan pengambilalihan perusahaan penerbangan KLM (Koningklijke Lucht Maatschappij) milik Belanda oleh Pemerintah Indonesia pada bulan Desember 1957.

Masalah Irian Barat diangkat kembali ke sidang PBB pada tahun 1961. Pada waktu itu yang menjadi Sekjen PBB adalah U Thant. U Thant menunjuk Ellsworth Bunker (diplomat Amerika Serikat) untuk mengajukan usul mengenai masalah Irian Barat. Bunker mengusulkan agar pihak Belanda menyerahkan kedaulatan Irian Barat kepada Republik Indonesia.
Presiden Soekarno sedang berpidato dalam upacara peringatan hari ulang tahun RI pada tanggal 17 Agustus 1960 di halaman istana merdeka. Dalam pidatonya, Presiden Soekarno memaklumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda.
Gambar: Presiden Soekarno sedang berpidato dalam upacara peringatan hari ulang tahun RI pada tanggal 17 Agustus 1960 di halaman istana merdeka. Dalam pidatonya, Presiden Soekarno memaklumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda.
Penyerahan itu dilakukan melalui PBB dalam waktu dua tahun. Usulan tersebut pada prinsipnya disetujui oleh Belanda dan Indonesia. Indonesia menghendaki waktu penyerahan lebih dipercepat dan Belanda menghendaki adanya semacam perwakilan di bawah PBB, yang kemudian membentuk Negara Papua.

2. Perjuangan Pembebasan Irian Barat Melalui Kekuatan Militer

Penyelesaian melalui jalan diplomasi mengalami jalan buntu. Oleh karena itu, Indonesia mulai mempersiapkan penyelesaian Irian Barat dengan kekuatan militer.

Untuk kepentingan ini, Pemerintah Indonesia awalnya berencana membeli senjata dari Amerika Serikat, tetapi gagal. Pembelian senjata kemudian dialihkan ke negara-negara Blok Komunis, terutama Uni Soviet.

Upaya pembelian senjata ini dipimpin Jenderal A.H. Nasution (Menteri Keamanan Nasional). Jenderal Nasution juga mengadakan lawatan ke berbagai negara seperti Thailand, Filipina, Australia, Jerman, Pakistan, India, dan Inggris.

Kunjungan itu bertujuan mencari informasi atau tanggapan seandainya pemerintah Indonesia membebaskan Irian Barat dengan kekuatan militer dan bagaimana hubungan negara-negara tersebut dengan pihak Belanda.

Negara-negara yang dikunjungi tersebut ada yang mendukung Belanda dan ada yang menyarankan jalan damai dalam penyelesaian Irian Barat. Persiapan pemerintah Indonesia diketahui Belanda, sehingga Belanda menuduh Indonesia melakukan agresi militer.

Belanda memperkuat armadanya di Irian Barat dengan mengirimkan kapal perangnya, misalnya kapal induk Karel Doorman, yang dilengkapi personil dan persenjataan lengkap.
Pada tanggal 14 Maret 1961, di Jakarta dilangsungkan penandatanganan perjanjian pembelian senjata dari Uni Soviet (a). Tujuannya adalah mempersiapkan potensi militer Indonesia dengan kekuatan yang diperhitungkan mampu membebaskan Irian Barat dengan kekuatan bersenjata. Gambar-gambar tersebut menunjukkan sebagian dari peralatan perang yang dibeli dari Uni Soviet untuk memperkuat Angkatan Bersenjata RI dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat. Peralatan perang tersebut terdiri dari pesawat Mig (b), kapal perang (c), dan kapal selam (d).
Pada tanggal 14 Maret 1961, di Jakarta dilangsungkan penandatanganan perjanjian pembelian senjata dari Uni Soviet (a). Tujuannya adalah mempersiapkan potensi militer Indonesia dengan kekuatan yang diperhitungkan mampu membebaskan Irian Barat dengan kekuatan bersenjata. Gambar-gambar tersebut menunjukkan sebagian dari peralatan perang yang dibeli dari Uni Soviet untuk memperkuat Angkatan Bersenjata RI dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat. Peralatan perang tersebut terdiri dari pesawat Mig (b), kapal perang (c), dan kapal selam (d).
Gambar: Pada tanggal 14 Maret 1961, di Jakarta dilangsungkan penandatanganan perjanjian pembelian senjata dari Uni Soviet (a). Tujuannya adalah mempersiapkan potensi militer Indonesia dengan kekuatan yang diperhitungkan mampu membebaskan Irian Barat dengan kekuatan bersenjata. Gambar-gambar tersebut menunjukkan sebagian dari peralatan perang yang dibeli dari Uni Soviet untuk memperkuat Angkatan Bersenjata RI dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat. Peralatan perang tersebut terdiri dari pesawat Mig (b), kapal perang (c), dan kapal selam (d).

Trikora

Pada tanggal 19 Desember 1961, Presiden Soekarno mengumumkan Tiga Komando Rakyat (Trikora) yang isinya adalah sebagai berikut.
  1. Gagalkan pembentukan negara boneka Negara Papua buatan Belanda kolonial.
  2. Kibarkanlah Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia.
  3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air dan Bangsa.

Komando Mandala

Dengan dicetuskannya Trikora tersebut, maka konfrontasi antara Belanda dan Indonesia pun dimulai. Sebagai reaksi terhadap Trikora, pada tanggal 2 Januari 1962 Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengeluarkan Keputusan No. 1 tahun 1962 tentang Pembentukan Komando Mandala Pembebasan Irian Barat.

Tugas Komando Mandala

Komando Mandala dibentuk pada tanggal 2 Januari 1962. Apa saja tugas yang akan diemban dan dilaksanakan oleh Komando Mandala? Tugas Komando Mandala adalah sebagai berikut.
  1. Merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi-operasi militer dengan tujuan mengembalikan wilayah Provinsi Irian Barat ke dalam kekuasaan Negara Republik Indonesia.
  2. Mengembangkan situasi militer di wilayah Provinsi Irian Barat:
  • sesuai dengan taraf-taraf perjuangan di bidang diplomasi;
  • supaya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya di wilayah Provinsi Irian Barat dapat secara de facto diciptakan daerah-daerah bebas atau didudukkan unsur kekuasaan/pemerintah daerah Republik Indonesia.

Pada tanggal 19 Desember 1961 Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora dalam rapat raksasa di alun-alun Yogyakarta.
Gambar: Pada tanggal 19 Desember 1961 Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora dalam rapat raksasa di alun-alun Yogyakarta.

Pada awalnya, Belanda yakin bahwa pasukan militer Indonesia tidak mungkin menembus wilayah Irian Barat. Keyakinan itu tidak terbukti. Pasukan Indonesia ternyata mampu menembus wilayah Irian Barat, bahkan mampu merebut Teminabuan. Berikut adalah peristiwa konfrontasi di Irian Barat.

3. Jalannya Konfrontasi

Setelah merumuskan Trikora, Dewan Pertahanan Nasional, Gabungan Kepala Staf, serta Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengadakan rapat.

Rapat memutuskan dua hal berikut ini.
  • Membentuk Provinsi Irian Barat gaya baru dengan putra Irian sebagai gubernurnya.
  • Membentuk Komando Mandala yang langsung memimpin kesatuan-kesatuan ABRI dalam tugas merebut Irian Barat.
Pada tanggal 13 Januari 1962, Brigadir Jenderal Soeharto dilantik menjadi Panglima Mandala.
Pangkatnya dinaikkan menjadi mayor jenderal. Di samping menjadi Panglima Mandala, Mayor Jenderal Soeharto juga merangkap sebagai Deputi Kasad untuk wilayah Indonesia bagian Timur.

Pada waktu itu juga ditetapkan susunan Komando Irian Barat sebagai berikut.
  • Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat, yaitu Presiden/Panglima Tertinggi Soekarno.
  • Wakil Panglima Besar dijabat Jenderal A. H. Nasution.
  • Kepala Staf dijabat oleh Mayor Jenderal Achmad Yani.

Sedangkan susunan Komando Mandala sebagai berikut.
  • Panglima Mandala dijabat oleh Mayor Jenderal Soeharto.
  • Wakil Panglima I dijabat oleh Kolonel Laut Subono.
  • Wakil Panglima II dijabat oleh Letkol Udara Leo Wattimena.
  • Kepala Staf Umum dipercayakan kepada Kolonel Achmad Tahir.

Fase Operasi Komando Mandala

Komando Mandala merencanakan operasi pembebasan Irian Barat dalam tiga fase, yakni sebagai berikut.

1. Fase Infiltrasi, sampai akhir 1962

Memasukkan 10 kompi ke sekitar sasaran-sasaran tertentu untuk menciptakan daerah bebas de facto. Kesatuan-kesatuan ini harus dapat mengembangkan penguasaan wilayah dengan membawa serta rakyat Irian Barat dalam perjuangan fisik untuk membebaskan wilayah mereka.

2. Fase Eksploitasi, awal tahun 1963

Mengadakan serangan terbuka terhadap induk militer lawan dan menduduki semua pos pertahanan musuh yang penting.

3. Fase Konsolidasi, awal tahun 1964

Menegakkan kekuasaan RI secara mutlak di seluruh Irian Barat.

Pada tanggal 15 Januari 1962 terjadi pertempuran di Laut Aru antara MTB ALRI melawan kapal perusak dan fregat Belanda.
Komodor Yos Sudarso gugur dalam pertempuran di Laut Aru pada tanggal 15 Januari 1962.
Gambar: Komodor Yos Sudarso gugur dalam pertempuran di Laut Aru pada tanggal 15 Januari 1962.

Dalam pertempuran itu, Komodor Yos Sudarso gugur karena KRI Macan Tutul yang ditumpanginya ditembak kapal Belanda. Komodor Yos Sudarso pada waktu itu menjabat sebagai deputi Kasal.

Panglima Mandala menyusun strategi yang dinamakan Strategi Panglima Mandala. Operasi-operasi militer terus dilancarkan oleh pihak Indonesia. Operasi-operasi tersebut antara lain Operasi Banteng Ketaton, Operasi Serigala, Operasi Jatayu, dan Operasi Jaya Wijaya.

Sebelum Operasi Jaya Wijaya dilaksanakan, Panglima Besar Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengirimkan instruksi yang isinya: menghentikan tembak-menembak pada tanggal 18 Agustus 1962.

Di samping instruksi tersebut, juga ada surat perintah Panglima Mandala yang ditujukan kepada seluruh pasukan dalam jajaran Mandala.

Surat itu berisi perintah agar semua pasukan menaati perintah penghentian tembak-menembak dan mengadakan kontak dengan perwira-perwira peninjau PBB. Para perwira tersebut didampingi Brigjen Achmad Wiranatakusumah, Kolonel Udara I Dewanto, dan Letkol Laut Nizam Zachman. 

Instruksi-instruksi tersebut dikirimkan kepada yang berkepentingan karena pada tanggal 15 Agustus 1962 Pemerintah Belanda dan Indonesia menandatangani persetujuan mengenai Irian Barat di Markas Besar PBB. Keberhasilan Trikora merupakan perpaduan usaha diplomasi dan militer.

4. Penyerahan Kekuasaan dari PBB kepada Indonesia

Sesuai dengan keputusan Perjanjian New York, mulai tanggal 1 Oktober 1962, kekuasaan Belanda atas Irian Barat berakhir.

Untuk sementara waktu mulai tanggal 1 Oktober 1962 - 1 Mei 1963, Irian Barat berada di bawah pengawasan pemerintahan sementara PBB. Pemerintahan sementara PBB di Irian Barat ini disebut UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority).
Rangkaian seremonial penyerahan kedaulatan Irian Barat kepada Republik Indonesia. Tampak Bendera PBB masih berkibar bersebelahan dengan bendera Merah Putih (gambar 1). Sementara itu, tampak bendera PBB sedang diturunkan (gambar 2). Gambar 3 menunjukkan bendera PBB sudah turun dan tinggal bendera Merah Putih yang berkibar. Untuk menghormati pembebasan Irian Barat, di Jakarta dibangun Patung Pembebasan Irian Barat (gambar 4).
Gambar: Rangkaian seremonial penyerahan kedaulatan Irian Barat kepada Republik Indonesia. Tampak Bendera PBB masih berkibar bersebelahan dengan bendera Merah Putih (gambar 1). Sementara itu, tampak bendera PBB sedang diturunkan (gambar 2). Gambar 3 menunjukkan bendera PBB sudah turun dan tinggal bendera Merah Putih yang berkibar. Untuk menghormati pembebasan Irian Barat, di Jakarta dibangun Patung Pembebasan Irian Barat (gambar 4).

Negara-negara yang terlibat dalam UNTEA adalah Belgia, Amerika Serikat, dan Australia. Mulai tanggal 31 Desember 1962, Bendera Merah Putih dikibarkan di samping bendera PBB. Sementara itu, bendera Belanda diturunkan.

Operasi Wisnumurti merupakan operasi terakhir yang dilakukan Komando Mandala. Operasi Wisnumurti adalah penyelenggaraan penyerahan kekuasaan pemerintahan di Irian Barat dari UNTEA kepada pemerintah Republik Indonesia.

Sesuai dengan Perjanjian New York, pada tanggal 1 Mei 1963 UNTEA secara resmi menyerahkan Irian Barat kepada pemerintah RI. Upacara serah terima dilaksanakan di Kotabaru/Hollandia (sekarang Jayapura).

Pihak Indonesia diwakili oleh Jenderal Ahmad Yani. Dengan kembalinya Irian Barat ke Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963 Komando Mandala juga dibubarkan.

Sesuai dengan Perjanjian New York juga, pada tahun 1969 pemerintah RI mengadakan Pepera (penentuan pendapat rakyat). Melalui Pepera ini, rakyat Irian Barat diberi kesempatan untuk memilih: tetap bersatu dengan RI atau merdeka. 

Dewan Musyawarah Pepera secara bulat memutuskan tetap bersatu dengan Republik Indonesia. Hasil Pepera dilaporkan dalam Sidang Umum PBB ke-24. Laporan hasil Pepera disampaikan Ortis Sanz (seorang diplomat PBB).

0 Response to "Sejarah Lengkap Perjuangan Bangsa Indonesia dalam Pembebasan Irian Barat (Trikora)"

Post a Comment