Faktor-faktor yang Berperan dan Berpengaruh terhadap Diterima atau Ditolaknya Unsur Kebudayaan Baru

Pembahasan kali ini adalah tentang Faktor-faktor yang Berperan dan Berpengaruh terhadap Diterima atau Ditolaknya Unsur Kebudayaan Baru.

Lima faktor penting

Ada lima faktor yang cukup berperan dan berpengaruh terhadap diterima atau ditolaknya suatu unsur atau kebudayaan baru. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kebiasaan masyarakat dalam berhubungan dengan masyarakat lain yang memiliki kebudayaan yang berbeda. 

Masyarakat yang terbuka hubungannya dengan orang dari beraneka ragam kebudayaan, cenderung menghasilkan warga masyarakat yang lebih mudah untuk menerima kebudayaan asing atau baru.

Sebaliknya, masyarakat yang tertutup lebih sulit membuka diri dan mengadakan perubahan. Terbuka dan tertutupnya sebuah masyarakat tidak harus melalui kontak sosial secara langsung.

Akses terhadap media komunikasi juga menjadi faktor penentu terbuka atau tertutupnya sebuah masyarakat. Daerah-daerah di mana surat kabar, media televisi, radio, atau internet sudah bisa diakses akan mudah mengalami perubahan dibandingkan dengan daerah-daerah yang sama sekali terisolasi.
Gambar: Contoh Masyarakat yang Terbuka menerima teknologi

2. Suatu unsur kebudayaan baru lebih mudah diterima jika tidak bertentangan dengan ajaran agama yang dianut masyarakat. 

Hal ini disebabkan masuknya unsur kebudayaan tersebut tidak merusak pranata-pranata yang sudah ada. Misalnya, sebuah televisi lokal akan menayangkan film-film Holywood dengan tema perselingkuhan.

Film tersebut baik dan dipuji di negara-negara Barat, karena menampilkan sosok perempuan yang kuat dan mampu membalas dendam terhadap perbuatan selingkuh suaminya. Meskipun film tersebut baik, masyarakat belum tentu menerimanya.

Masyarakat yang memiliki nilai agama yang kuat, yang memahami perselingkuhan sebagai salah (dosa) akan menolak film semacam itu. Masyarakat bahkan tidak segan-segan memprotes dan memboikot jaringan televisi yang berani menyiarkannya.

Contoh yang paling nyata dan terjadi di Indonesia adalah penolakan terhadap terbit dan beredarnya majalah Pl*yb*y berbahasa Indonesia.

Majalah untuk pembaca dewasa yang terkenal dengan gambar-gambarnya yang seronok ini ditolak masyarakat, karena bertentangan dengan nilai-nilai kesopanan dan agama. Majalah asal Amerika Serikat ini akhirnya tidak lagi beredar di Indonesia.

3. Corak struktur sosial suatu masyarakat yang menentukan proses penerimaan unsur kebudayaan baru. 

Struktur yang otoriter akan sukar menerima setiap unsur kebudayaan baru, kecuali kebudayaan baru tersebut langsung atau tidak langsung dirasakan manfaatnya oleh rezim yang berkuasa.

Misalnya, Myanmar dewasa ini hidup di bawah kontrol dan kendali kekuasaan rezim militer yang tidak demokratis. Seluruh aktivitas demokrasi seperti demonstrasi, kebebasan pers, rapat massa, mimbar bebas, bahkan ritual dan ajaran keagamaan semuanya dikontrol pemerintah.

Wartawan asing tidak boleh seenaknya masuk ke negara tersebut. Wartawan dalam negeri juga tidak boleh mengirim berita buruk ke luar negeri. Semua pemberitaan harus seizin dan dikontrol oleh negara.

Dalam keadaan demikian, sulit mengharapkan sebuah perubahan ke arah demokrasi di negara Myanmar.

Hal yang sama juga terjadi di Tibet yang dikuasai dan dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah China. Kepentingan China adalah Tibet harus tetap berada di bawah kekuasaannya.

Sementara rakyat Tibet sendiri ingin memerdekakan diri dan membentuk sebuah negara berdaulat. Perbedaan kepentingan politik semacam ini menyebabkan pemerintah dan milite China tidak segan-segan menindak dengan keras setiap aksi protes dan kerusuhan di sana.

Pers dan turis asing dibatasi, dan kalau perlu juga dilarang masuk ke Tibet. Nah, masyarakat yang tertutup dengan penguasa yang otoriter semacam ini akan menutup diri terhadap segala perubahan, terutama yang membahayakan penguasa sendiri.

4. Suatu unsur kebudayaan baru lebih mudah diterima masyarakat kalau sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur baru tersebut.

Misalnya, adanya prasarana jalan yang bisa dilewati kendaraan bermotor di suatu daerah terpencil akan memudahkan masuknya kendaraan-kendaraan bermotor seperti sepeda motor atau mobil.

Masyarakat setempat pun akan membeli kendaraan bermotor karena lebih memudahkan mobilitas sosial dibandingkan dengan sarana transportasi tradisional seperti kuda, dokar, dan sebagainya.

Demikian pula halnya dengan alat-alat elektronik seperti televisi, VCD/DVD player, komputer, lemari es, dan lain-lain akan mudah diterima kalau sudah ada jaringan listrik yang masuk.

5. Unsur baru yang terbukti mempunyai kegunaan konkret dan terjangkau oleh kebanyakan anggota masyarakat akan mudah diterima. 

Sebaliknya unsur baru yang belum terbukti kegunaanya dan tidak terjangkau oleh kebanyakan anggota masyarakat lebih sulit diterima. Contohnya, Pesawat radio dapat diterima dengan mudah oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Mengapa?

Karena pesawat radio memiliki manfaat yang nyata, yaitu sebagai alat untuk memperoleh hiburan dan informasi. Selain itu, kebanyakan masyarakat juga memiliki kemampuan untuk membelinya.

Contoh lain adalah program listrik masuk desa. Program itu mudah diterima warga setempat karena masyarakat bisa tahu manfaat terbangunnya jaringan listrik di daerahnya.

Listrik sangat berguna untuk penerangan dan untuk mengoperasikan alatalat elektronik yang dibutuhkan warga masyarakat.

Contoh konkret lainnya adalah kebijakan pemerintah RI mengkonversi atau mengganti penggunaan kompor minyak tanah dengan kompor gas. Selama ini masyarakat umumnya menggunakan kompor minyak tanah untuk memasak maupun membuka usaha.

Sejalan dengan semakin mahalnya minyak tanah, pemerintah memutuskan untuk mengubahnya dengan kompor gas. Tetapi, karena gas tergolong mahal, pemerintah meluncurkan program gas tiga kilogram dengan harga yang sangat murah.

Bahkan pemerintah pun membagi secara gratis kompor gas dan sebuah tabung berisi gas. Kebijakan ini dilakukan untuk mempercepat proses peralihan dari kompor minyak tanah ke kompor gas.

Perubahan semacam ini tentu menimbulkan pro dan kontra. Meskipun demikian, masyarakat akan dengan senang hati beralih dari kompor minyak tanah ke kompor gas jika perubahan ini menguntungkan.

Misalnya, memang terbukti benar, bahwa menggunakan kompor gas jauh lebih murah dari pada menggunakan kompor minyak tanah, baik untuk memasak di rumah maupun untuk kepentingan usaha.

Demikianlah lima faktor penting yang memengaruhi apakah sebuah masyarakat menerima atau menolak perubahan sosial. Tentu masih ada faktor-faktor lainnya yang tidak disebutkan di sini.

Kamu sendiri coba mencari dan mendiskusikan faktor-faktor lainnya yang memengaruhi diterima atau ditolaknya sebuah perubahan sosial dan budaya. Apakah faktor-faktor tersebut nyata ada dalam masyarakat?

Nah, dengan faktor-faktor tersebut, kamu sebenarnya sudah memiliki pengetahuan menganalisis setiap perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Coba misanya membaca koran atau majalah yang memberitakan suatu kejadian di suatu daerah.

Mengapa masyarakat menolak pembangunan jalan tol? Mengapa masyarakat menolak pembangunan reaktor nuklir pembangkit tenaga listrik? Mengapa masyarakat menolak tempat pembuangan sampah akhir (TPA)?

Coba pahami berbagai gejala sosial sederhana itu dengan seperangkat teori sederhana yang sudah kamu pelajari di atas.

Lakukan pengamatan sederhana, misalnya dengan membaca koran, majalah, atau menonton televisi. Setelah itu diskusikan masalah yang kamu baca tersebut dengan teman-temanmu.

Kemukakan pandangan atau pendapatmu mengenai peristiwa-peristiwa tersebut. Jangan takut untuk berpendapat, karena akan sangat membantu pemahamanmu sendiri. Mengapa masyarakat menolak tempat perjudian?

0 Response to "Faktor-faktor yang Berperan dan Berpengaruh terhadap Diterima atau Ditolaknya Unsur Kebudayaan Baru"

Post a Comment