Latar Belakang Perang Puputan Margarana di Bali Tahun 1946

Pada kesempatan hari ini kita akan bahas tentang perang puputan yang meliputi latar belakang puputan margarana, perang puputan margarana, perang puputan badung, pemimpin perang puputan, dan perang puputan klungkung.

Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1946, Belanda mendaratkan kira-kira 2000 tentara di Bali. Pada waktu itu, Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai sedang berada di Yogyakarta untuk berkonsultasi dengan markas tertinggi TRI mengenai pembinaan Resimen Sunda Kecil dan cara-cara menghadapi Belanda.

Akibat perundingan Linggarjati, daerah kekuasaan de facto Republik Indonesia yang diakui hanya terdiri dari Jawa, Madura, dan Sumatera. Hal itu berarti Bali tidak diakui sebagai bagian dari Republik Indonesia.

I Gusti Ngurah Rai juga mendapati pasukannya terpencar-pencar. Sementara itu, Belanda sedang mengusahakan berdirinya satu negara boneka di wilayah Indonesia bagian timur. I Gusti Ngurah Rai dibujuk Belanda untuk bekerja sama.

Latar Belakang Perang Puputan Margarana di Bali Tahun 1946
Gambar: I Gusti Ngurah Rai Pemimpin Perang Puputan di Margarana, Bali
Ajakan tersebut ditolak I Gusti Ngurah Rai Pada tanggal 18 November 1946, I Gusti Ngurah Rai menyerang Belanda.

Pasukan Ngurah Rai berhasil mengusai Tabanan. Namun, karena kekuatan pasukan yang tidak seimbang akhirnya pasukan Ngurah Rai dapat dikalahkan dalam pertempuran puputan (habis-habisan) di Margarana, sebelah utara Tabanan. I Gusti Ngurah Rai gugur bersama anak buahnya.

Gugurnya I Gusti Ngurah Rai melicinkan jalan bagi usaha Belanda untuk membentuk “Negara Indonesia Timur”.

0 Response to "Latar Belakang Perang Puputan Margarana di Bali Tahun 1946"

Post a Comment